Pertanyaan2 seperti hampir sering di sampaikan ke saya baik ngobrol,
chating ataupun via email. Memang utk sebagian orang yang sudah lama
menekuni usaha retail terutama, pemilihan lokasi mungkin bukan hal yang
terlalu sulit, akan tetapi buat yang baru mau terjun pertama kali
membuka toko biasanya pemilihan lokasi akan sangat hati2 penuh
pertimbangan, ragu bahkan saking lamanya berpikir, tiba2 malah keduluan
di ambil orang atau bahkan mungkin kalah duluan dengan pesaing kita :-)
Bagaimana
sih sebaiknya memilih lokasi toko/distro, faktor2 apa saja yang perlu
di perhatikan dalam menentukan lokasi toko. Pengalaman saya sendiri
pribadi dalam menentukan lokasi distro,tidak semua tepat, ada yang salah
bahkan ada juga dalam waktu 8 bulan ada yang langsung saya tutup
karena sepi pengunjung :-( .
1. Dekat dengan target market.
Pastikan siapa target market produk anda, apakah utk kalangan tertentu, umur tertentu
Atau
mungkin lebih spesifik lagi. Satu nilai tambah untuk toko anda, bisa
menjangkau market lebih dekat, sehingga customer lebih mudah untuk
mengunjungi,lebih hemat waktu serta biaya bagi customer.
2. Gampang terlihat ( viewable )
Bisnis
retail, apalagi distro fashion lokasi yg strategis dan gampang di
lihat, akan sangat memudahkan menarik customer dan meminimalisir biaya
promosi (pengenalan lokasi misalnya)
Apalagi ditambah dengan papan nama/signage yg mencolok, unik sekaligus eye catching.
3. Traffic
Arus
lalu lalang orang atau kendaraan.. Untuk konsep toko atau distro yang
menganut konsep Independent Store. ( Berdiri sendiri di luar komplek
pertokoan, pusat perbelanjaan, mall ). Kepadatan traffic akan
berpengaruh terhadap pengunjung toko.
4. Akses
Penting
juga di perhatikan arus lalu lintas apakah satu arah atau dua arah,
apakah letak toko kita ada pada sisi arah orang pulang beraktifitas
atau arah berangkat orang beraktifitas. Bagaimana customer mudah
mengakses menuju toko kita, apakah ada median jalan sehingga perlu
memutar balik apabila menggunakan kendaraan.
5. Sharing area atau monopoli area
Pertimbangan pemilihan lokasi seperti ini, sama sama mempunyai resiko.
Sharing area :
Adalah
lokasi yang kita pilh dengan alasan di lokasi tersebut sudah ada toko
sejenis atau kompetitor, otomatis resiko memilih .lokasi seperti ini
kita sudah siap utk berkompetisi dalam segala hal. Akan tetapi
keuntungannya kita masuk di area yang sudah pasti ada market,tidak perlu
mensurvei lagi, selain itu kita tidak perlu mengedukasi pasar lagi.
Monopoli area :
Kita
memilih lokasi yang benar2 belum ada pesaing, dengan resiko kita harus
mengeluarkan biaya ektra utk mempromosikan toko kita, perlu effort waktu
dan biaya. Akan tetapi karena kita sendiri ada di area tersebut, maka
kita akan lebih leluasa utk menetapkan harga, menikmati margin karena
relatif tidak ada kompetitor.
6. Biaya sewa
Lokasi toko yang strategis otomatis mempunyai harga sewa yang tinggi.
Bagaimana
kalau selisih harganya dengan lokasi lain yang kurang strategis cukup
besar ?? Sepanjang selisih harganya masih tercover dengan potensi yang
akan di dapat, lebih baik memang memilih tempat yang strategis walaupun
harga akuisisinya lebih mahal.
7. Legalitas
Aspek
legal wajib diperhatikan, jangan sampai mengabaikan hal ini, terlalu
beresiko apabila kita sudah memutuskan memilih lokasi tetapi di kemudian
hari bermasalah secara dalam hal perijinan, regulasi kawasan serta
lingkungan sekitar.
8. Lingkungan sekitar
Jenis
usaha di kanan kiri toko kita akan sedikit berpengaruh terhadap image
dan tidak langsung mempengaruhi minat kunjungan customer. Contoh :
distro akan lebih cocok di deretan usaha warnet, game, cafe terlalu
memaksakan diri apabila samping distro ada bengkel motor, toko bangunan
:-(
Terlepas dari hal hal tersebut di atas, faktor insting
bisnis sedikit banyak akan sangat berpengaruh dalam hal memilih lokasi
tempat usaha/toko. Semakin kita sering menjalaninya akan semakin mudah
kita untuk memilih lokasi mana yang paling cocok, sehingga meminimalisir
kerugian investasi di kemudian hari.
Selamat hunting lokasi !
Oleh: Try Atmojo
Owner: www.raxzel.com
Selasa, 23 April 2013
8 Hal Penyebab Utama Gagalnya Start Up Bisnis
Saya punya seorang teman yang sudah lama saya kenal, teman saya satu
ini, sebelumnya sudah cukup lama bekerja di sebuah Perusahaan besar .
Kalau melihat dari kegigihan, pengalaman, pendidikan, network dan
ekpertisenya sudah tidak di ragukan lagi pokoknya .
Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dan mulai membangun bisnis sendiri . Sebetulnya waktu itu bidang bisnis yang di pilih sudah cukup tepat menurut pengamatan saya, malah terus berkembang, tetapi entah kenapa pada akhirnya terpaksa di tutup .
Terakhir, selalu pada saat kita lama tidak ketemu , selalu berganti jenis bisnisnya, dari mulai jaman wartel, counter hp, biro jasa , laundry , fotokopi + ATK dll .
Memang biasanya bisnis yang lagi mulai, pada awal berdirinya akan banyak menemui hal 2 umum seperti ini :
Hampir semua bisnis pada awalnya pasti akan mengalami masa-masa sulit seperti tersebut di atas, tinggal bagaimana kita sebagai pemilik untuk peka & menguasai point point kritis tersebut. Di dalam prosesnya , kita boleh boleh saja merubah “ Strategi “ tanpa perlu merubah, fokus dan target bisnis kita .
Salam sukses
Try Atmojo
Owner : www.raxzel.com
Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dan mulai membangun bisnis sendiri . Sebetulnya waktu itu bidang bisnis yang di pilih sudah cukup tepat menurut pengamatan saya, malah terus berkembang, tetapi entah kenapa pada akhirnya terpaksa di tutup .
Terakhir, selalu pada saat kita lama tidak ketemu , selalu berganti jenis bisnisnya, dari mulai jaman wartel, counter hp, biro jasa , laundry , fotokopi + ATK dll .
Memang biasanya bisnis yang lagi mulai, pada awal berdirinya akan banyak menemui hal 2 umum seperti ini :
- Belum adanya penjualan yang berakibat aliran cashflownya tersendat
- Beban pengeluaran yang sudah pasti ( fixed cost )
- Masih terus mencari basis pelanggan yang tepat
- Pemilik yang masih terpaksa in-charge dalam operasional day per day, yang berakibat “melupakan “ inovasi serta strategi marketing
- Kurangnya dana cadangan untuk mencover biaya operasional tahap awal
- Kurangnya skill & pengetahuan tentang strategi bisnis si pemilik atau kurangnya pengetahuan tentang ciri khas kelemahan dari masing masing jenis / type bisnis ( critical point )
- Lemahnya Attitude serta karakter si pemilik dalam me-manage bisnisnya hubungannyadengan semua stake holder yang terkait ( Pelanggan, Suplier, Perbankan , Karyawan dll )
- Kurangnya disiplin, komitmen, persistensi, usaha & doa dalam membangun bisnis .
Hampir semua bisnis pada awalnya pasti akan mengalami masa-masa sulit seperti tersebut di atas, tinggal bagaimana kita sebagai pemilik untuk peka & menguasai point point kritis tersebut. Di dalam prosesnya , kita boleh boleh saja merubah “ Strategi “ tanpa perlu merubah, fokus dan target bisnis kita .
Salam sukses
Try Atmojo
Owner : www.raxzel.com
Jadi Investor
Oleh: Try Atmojo - UKMSukses.com
“Investor” sebutan yang keren, ya. Mungkin hampir sebagian orang sebetulnya adalah investor. Kita nabung di bank pada hakekatnya adalah investor. Cuma investasi tipe ini sangat kecil return-nya. Rata-rata hanya 3% per tahun, selalu kalah tergerus oleh inflasi yang rata-rata 6 % (y.o.y)
Lalu apa sih yang mesti kita tahu untuk menjadi investor ? Banyak teman saya yang sampai saat ini sudah kapok dan alergi kalau mendengar kata-kata “ investasi “ disebabkan beberapa pengalaman mereka yang tergiur dengan janji2 muluk imbal hasilnya tau-tau malah habis uangnya.
Tapi ada juga teman yang selalu bersemangat jika diajak diskusi atau ada tawaran untuk berinvestasi, karena mereka sudah tahu mana investasi yang aman, dan mana yang “bodong.”
1. Tetapkan tujuan investasi
Sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, pastikan dulu apa sebetulnya TUJUAN UTAMA kita untuk investasi. Jangan hanya ikut-ikutan. Pada umumnya tujuan kita berinvestasi adalah untuk:
2. Menentukan rencana investasi
Buat rencana bentuk investasi yang paling cocok buat Anda, dari mulai tujuan, target pencapaian serta resiko apa saja yang siap diambil. Semakin detail Anda merencanakan, akan semakin mudah untuk mengelolanya.
3. Tipe apa Anda ?
Setiap orang berbeda-beda dalam memilih investasi, apakah kita cenderung agresif, atau konvensional? Pilihan tersebut selalu terkait dengan besaran resiko yang siap kita hadapi, apabila terjadi sesuatu hal.
4. Menentukan produk investasi
Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi produk investasi apa yang akan digunakan dengan melihat potensi hasil dan resiko dari setiap produk investasi yang akan digunakan. Kumpulkan semua informasinya terlebih dahulu, pelajari dengan seksama produk investasi tersebut. Berhati-hatilah dalam memilih produk investasi, karena ini penting dalam kesuksesan investasi Anda.
5. Diversifikasi
Untuk mencapai berbagai tujuan investasi, investor membangun sebuah portofolio yang berisi berbagai produk investasi. Diversifikasi adalah kunci dalam menyusun portofolio agar hasil yang diperoleh maksimal namun memiliki resiko yang minimal. Jika ada produk investasi yang turun, harus ada produk investai lain yang naik. Berinvestasilah di berbagai jenis investasi dan banyak jangka waktu.
6. Mengelola portofolio
Keberhasilan dalam mengelola portofolio bukan dilihat dari hasil yang diperoleh, namun dari cara orang tersebut mengendalikan resiko. Jika portofolio yang telah disusun hasilnya bergeser dari tujuan awal, ubahlah isi portofolio Anda agar tetap konsisten dalam tujuan investasi. Pastikan Anda memiliki alasan yang tepat dalam melakukan penjualan atau pembelian.
Jika ada yang bertanya kapan saat yang tepat untuk memulai berinvestasi, jawabannya adalah sekarang.
Selamat datang Investor !
“Investor” sebutan yang keren, ya. Mungkin hampir sebagian orang sebetulnya adalah investor. Kita nabung di bank pada hakekatnya adalah investor. Cuma investasi tipe ini sangat kecil return-nya. Rata-rata hanya 3% per tahun, selalu kalah tergerus oleh inflasi yang rata-rata 6 % (y.o.y)
Lalu apa sih yang mesti kita tahu untuk menjadi investor ? Banyak teman saya yang sampai saat ini sudah kapok dan alergi kalau mendengar kata-kata “ investasi “ disebabkan beberapa pengalaman mereka yang tergiur dengan janji2 muluk imbal hasilnya tau-tau malah habis uangnya.
Tapi ada juga teman yang selalu bersemangat jika diajak diskusi atau ada tawaran untuk berinvestasi, karena mereka sudah tahu mana investasi yang aman, dan mana yang “bodong.”
1. Tetapkan tujuan investasi
Sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, pastikan dulu apa sebetulnya TUJUAN UTAMA kita untuk investasi. Jangan hanya ikut-ikutan. Pada umumnya tujuan kita berinvestasi adalah untuk:
- Persiapan masa tua
Biasanya makin tua usia, makin tidak produktif dan semakin besar cost untuk menjaga kesehatan. Masih mending kalau yang mempunyai tunjangan pensiun. Lha kalau wiraswasta? Berarti kita harus persiapkan sendiri rencana dana pensiunnya. - Meningkatkan pendapatan
Mengembang-biakkan dana untuk berbagai kebutuhan atau mem-back up kebutuhan dan perkembangan bisnis. - Persiapan dana pendidikan
Dana pendidikan terus mengalami kenaikan seiring dengan besarnya inflasi. Kita mesti jeli menghitung “present value” dengan “future value.” Bahkan kalau dihitung-hitung, dengan kita hidup di Indonesia, hampir sebagian besar pendapatan kita tersedot untuk : biaya kesehatan, pendidikan, biaya hidup.
2. Menentukan rencana investasi
Buat rencana bentuk investasi yang paling cocok buat Anda, dari mulai tujuan, target pencapaian serta resiko apa saja yang siap diambil. Semakin detail Anda merencanakan, akan semakin mudah untuk mengelolanya.
3. Tipe apa Anda ?
Setiap orang berbeda-beda dalam memilih investasi, apakah kita cenderung agresif, atau konvensional? Pilihan tersebut selalu terkait dengan besaran resiko yang siap kita hadapi, apabila terjadi sesuatu hal.
4. Menentukan produk investasi
Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi produk investasi apa yang akan digunakan dengan melihat potensi hasil dan resiko dari setiap produk investasi yang akan digunakan. Kumpulkan semua informasinya terlebih dahulu, pelajari dengan seksama produk investasi tersebut. Berhati-hatilah dalam memilih produk investasi, karena ini penting dalam kesuksesan investasi Anda.
5. Diversifikasi
Untuk mencapai berbagai tujuan investasi, investor membangun sebuah portofolio yang berisi berbagai produk investasi. Diversifikasi adalah kunci dalam menyusun portofolio agar hasil yang diperoleh maksimal namun memiliki resiko yang minimal. Jika ada produk investasi yang turun, harus ada produk investai lain yang naik. Berinvestasilah di berbagai jenis investasi dan banyak jangka waktu.
6. Mengelola portofolio
Keberhasilan dalam mengelola portofolio bukan dilihat dari hasil yang diperoleh, namun dari cara orang tersebut mengendalikan resiko. Jika portofolio yang telah disusun hasilnya bergeser dari tujuan awal, ubahlah isi portofolio Anda agar tetap konsisten dalam tujuan investasi. Pastikan Anda memiliki alasan yang tepat dalam melakukan penjualan atau pembelian.
Jika ada yang bertanya kapan saat yang tepat untuk memulai berinvestasi, jawabannya adalah sekarang.
Selamat datang Investor !
Cara orang kaya berbelanja…
Oleh: Andi Sufariyanto - UKMSukses.com
Di buku yang barusan saya baca Increasing Your Financial IQ, karangan Robert T. Kiyosaki. Ada hal yang menarik. Pada saat itu diceritakan bahwa Kiyosaki berniat untuk membeli mobil Roll Royce / Bentley seharga $180.000 (saya lupa persisnya).
Menariknya…yang dia lakukan pada saat itu adalah menelepon broker perdagangan komoditinya (Kiyosaki berinvestasi di komoditi perak, kalo di sini sih sama dengan perdagangan loco untuk komoditi emas) dan meminta broker tersebut untuk menghasilkan uang sebesar $180.000 dari perdagangan komoditi tersebut.
Akhirnya nominal tersebut tercapai dalam jangka waktu 8-9 bulan (saya lupa lagi persisnya
) Setelah diperoleh, barulah Kiyosaki kemudian membeli mobil Roll Roycenya
Pelajaran yang saya ambil :
1. Orang kaya (yang cerdas) membeli semua barang konsumtifnya dari apa yang dihasilkan oleh aset-asetnya (paper asset, properti ataupun bisnis) dan berupa pasive income.
2. Walaupun kaya, mereka berani untuk menunda keinginan mereka tanpa harus hidup di bawah standar pendapatan mereka. Jadi kalo mau beli mobil mewah, ya beli aja. Tapi pikirkan dengan bijak bagaimana proses pembeliannya
3. Dengan memaksa aset mereka yang bekerja untuk mereka, maka gaya hidup mereka sama sekali tidak mempengaruhi ataupun mengurangi jumlah aset yang mereka punyai. Makanya sekarang bisa dilihat yang kaya akan bertambah kaya. Bukan karena mereka memiliki banyak uang, tapi karena mereka memiliki kecerdasan finansial
4. Semakin tinggi investasi otak kita…Insya Allah hidup akan semakin lebih mudah
Kejadian di kita sekarang (dan saya beberapa kali mengalaminya) adalah membelanjakan kebutuhan konsumtif dari active income, baik itu dari gaji bagi yang masih jadi karyawan, ataupun dari pendapatan usaha yg sifatnya masih self employee.
Bukannya diharamkan apabila kita saat ini menggunakan active income untuk kebutuhan konsumtif, akan tetapi harus punya target….sampai kapan ??? (sebagai bahan renungan bersama…)
Di buku yang barusan saya baca Increasing Your Financial IQ, karangan Robert T. Kiyosaki. Ada hal yang menarik. Pada saat itu diceritakan bahwa Kiyosaki berniat untuk membeli mobil Roll Royce / Bentley seharga $180.000 (saya lupa persisnya).
Menariknya…yang dia lakukan pada saat itu adalah menelepon broker perdagangan komoditinya (Kiyosaki berinvestasi di komoditi perak, kalo di sini sih sama dengan perdagangan loco untuk komoditi emas) dan meminta broker tersebut untuk menghasilkan uang sebesar $180.000 dari perdagangan komoditi tersebut.
Akhirnya nominal tersebut tercapai dalam jangka waktu 8-9 bulan (saya lupa lagi persisnya
Pelajaran yang saya ambil :
1. Orang kaya (yang cerdas) membeli semua barang konsumtifnya dari apa yang dihasilkan oleh aset-asetnya (paper asset, properti ataupun bisnis) dan berupa pasive income.
2. Walaupun kaya, mereka berani untuk menunda keinginan mereka tanpa harus hidup di bawah standar pendapatan mereka. Jadi kalo mau beli mobil mewah, ya beli aja. Tapi pikirkan dengan bijak bagaimana proses pembeliannya
3. Dengan memaksa aset mereka yang bekerja untuk mereka, maka gaya hidup mereka sama sekali tidak mempengaruhi ataupun mengurangi jumlah aset yang mereka punyai. Makanya sekarang bisa dilihat yang kaya akan bertambah kaya. Bukan karena mereka memiliki banyak uang, tapi karena mereka memiliki kecerdasan finansial
4. Semakin tinggi investasi otak kita…Insya Allah hidup akan semakin lebih mudah
Kejadian di kita sekarang (dan saya beberapa kali mengalaminya) adalah membelanjakan kebutuhan konsumtif dari active income, baik itu dari gaji bagi yang masih jadi karyawan, ataupun dari pendapatan usaha yg sifatnya masih self employee.
Bukannya diharamkan apabila kita saat ini menggunakan active income untuk kebutuhan konsumtif, akan tetapi harus punya target….sampai kapan ??? (sebagai bahan renungan bersama…)
Langganan:
Postingan (Atom)