Selasa, 28 Mei 2013

Risiko Berinvestasi vs Risiko Tidak Berinvestasi

Dibandingkan 10 sampai 20 tahun yang lalu, beberapa tahun belakangan ini semarak investasi sungguh jauh berbeda. Kini, orang “biasa” pun sudah memiliki investasi di pasar keuangan, khususnya pasar modal. Dahulu, hanya segelintir orang saja, dan tentunya hanya mereka yang memiliki kekayaan berlebih saja yang berani menyelam di industri  pasar modal.

Dahulu, investasi juga sangat terbatas. Biasanya hanya ditempatkan pada emas, tanah, properti, mata uang asing dan sejenisnya. Saat ini berbagai macam instrumen investasi dapat dipilih oleh investor, baik investor “kakap” maupun investor dengan kocek terbatas.

Namun fenomena ini tidak menjadikan seseorang tidak takut lagi akan risiko investasi. Masih banyak golongan menengah yang memiliki uang namun uang mereka hanya duduk manis di tabungan atau deposito. Seringkali alasan mereka cukup klasik: tak mau berinvestasi karena takut dengan risikonya. Padahal, tidak berinvestasi pun ada risikonya. Bahkan bisa lebih besar. Kok bisa?

Ilustrasinya begini.
A menyisihkan uang Rp1 juta per bulan selama 20 tahun untuk ditabung dengan tujuan uangnya kelak akan dipakai pada saat dia pensiun. A ingin biaya hidup pada saat pensiunnya sama dengan gaya hidupnya saat ini. Katakanlah biaya hidupnya saat ini Rp3 juta per bulan. Dengan asumsi bunga tabungan 2% nett per tahun, maka pada tahun ke-20, orang ini kira-kira akan punya uang sebesar Rp295 juta. Padahal biaya hidup itu naik setiap tahun karena adanya inflasi. Kita asumsikan inflasi rata-rata 8% per tahun, maka biaya hidup Rp3 juta sekarang itu sama dengan Rp14 juta pada saat 20 tahun mendatang.

Maka jika “hanya” punya uang Rp295 juta hasil tabungannya sebesar Rp1 juta per bulan, dia akan kehabisan uang itu pada bulan ke-22. Sehingga uang yang dia kumpulkan selama 20 tahun ternyata hanya bisa menanggung biaya hidupnya pada saat pensiun selama kurang dari 2 tahun saja. Itulah kenapa saat ini banyak sekali orang yang sudah pensiun “terpaksa” bekerja kembali karena kantongnya sudah menipis.


Bandingkan jika uang Rp1 juta setiap bulan tadi tidak hanya ditabung, namun diinvestasikan. Misalkan, investasinya di produk reksadana saham dengan imbal hasil 20% per tahun. Maka dalam waktu 20 tahun uang tersebut bisa mencapai Rp3,1 miliar. Uang tersebut bisa membiayai hidupnya selama 222 bulan atau lebih kurang 18 tahun sejak dia pensiun.

Benar bahwa investasi memang ada risikonya karena nilainya naik turun. Namun, bila menabung saja, mungkin uangnya tak akan berkurang, tetapi sudah pasti tidak cukup untuk membiayai hidupnya.  

Jadi, Investasi memang mengandung risiko. Tapi tidak mau investasi juga ada risikonya. Bahkan mungkin risikonya lebih besar.

Mohammad B. Teguh, CFP®
Independent Financial Planner
QM Financial

www.qmfinancial.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar