Kamis, 13 Mei 2010

Heroic Communication (Komunikasi Heroik)

Penulis : DR. Ponijan Liaw, M.Pd.


Sejarah telah menorehkan sederet kisah abadi yang melegenda tentang orang-orang sukses di masa lalu yang gemanya berlaku hingga saat ini. Ada tokoh masyarakat, negarawan, seniman, businessman, dan tokoh-tokoh lainnya. Hal ini pernah menarik perhatian Andrew Carnegie, seorang pengusaha kaya pada masanya untuk menelusuri dan meneliti lebih jauh, ada apa di balik kesuksesan orang-orang besar pada zamannya. Adalah Napoleon Hills yang terpilih untuk menguak misteri tersebut. Berbekal kognisi kritis-konstruktif dan nalar inklusif-investigatif, ia pun akhirnya berhasil menguak teka-teki tersebut!

Hasilnya? Ditemukan sebuah persamaan dari para tokoh yang diteliti (Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell, dll.), yaitu: semuanya memiliki mindset yang sangat positif dan optimis. Tidak ada unsur negatif dan pesimis dalam ruang mental mereka. Semuanya berani mimpi dan akhirnya berhasil mewujudkannya. Artinya, ada sebuah mentalitas positif-generik yang membuat mereka berhasil. Tinjauan ini dapat dikategorikan ke dalam sisi abstrak: mentalitas. Lalu, bagaimana jika hal itu dilihat dari sisi konkret: cara mereka mengemukakan gagasan.

Menarik memang mengkaji gaya komunikasi macam apa yang diterapkan oleh para tokoh legendaris dunia yang ada hingga membuat mereka dikenang abadi sepanjang masa. Walau pun jasad mereka sudah tiada. Ambil contoh, Bung Karno, Martin Luther King, Winston Churchill, Napoleon Bonaparte, Gandhi, Nelson Mandela, John F. Kennedy, Bunda Teresa, Elvis Presley, Bruce Lee, Konosuke Matsushita, Anita Roddick, dan sederet nama besar lainnya. Jika ditinjau dari sisi komunikasi, beberapa instrumen fundamental komunikasi, disadari mau pun tidak, telah dikristalisasi secara spesifik oleh setiap tokoh yang ada. Instrumen yang merupakan perangkat kesuksesan komunikasi heroik, dalam pengertian mengungkapkan sesuatu hingga berhasil mencapai tujuan adalah power, content, context, dan congruence.

Mari kita lihat yang pertama, power. Kekuatan atau daya suara ketika berbicara sangat menentukan tingkat keberhasilan penetrasi pesan dari pengirim kepada penerima. Jika suara tidak memiliki daya, alias biasa-biasa saja, dapat dipastikan, penerima pesan akan merasa ragu dan tidak tergerak untuk menyimpan hal itu dalam memori jangka panjangnya. Jika sudah demikian, kesan yang diterima juga tidak akan membekas dalam durasi yang lama. Ambil contoh tokoh yang mengedepankan power: Presiden RI pertama, Bung Karno. Dengan suara yang menggelegar, intonasi yang teratur dan terukur, daya yang terjaga, berapa banyak rakyat yang mengamini apa pun yang disampaikannya, baik secara langsung mau pun melalui radio dan televisi pada masanya. Pengaruh itu ternyata sampai kini masih terasa. Kerap dijumpai di masa modern ini, anak-anak muda yang begitu terkesan dengan kharisma dan gaya pidato yang sangat powerful dari tokoh ini walau pun hanya mendengarnya dari cerita para sesepuh negeri ini ataumengintipnya di youtube.com. Sungguh sebuah sisi komunikasi impresif yang perlu ditiru.

Hal kedua yang penting dalam komunikasi heroik ini adalah content, isi. Komunikasi jenis ini bukan hanya akan mengesankan pendengarnya, namun juga akan menggerakkan mereka melakukan hal serupa. Bunda Teresa, Dalai Lama, Nurcholis Madjid, Martin Luther King merupakan nama-nama dalam kategori ini. Buktinya, ujaran-ujaran mereka yang telah berusia tua tetap saja menjadi kutipan para pemimpin dunia di berbagai bidang, bahkan diteladani sampai kini. Ini membuktikan bahwa isi yang baik, bernas, inklusif, positif, konstruktif, dan implementatif menjadi menu yang sangat nikmat untuk disantap dan dikembangkan.

Hal pendukung keberhasilah komunikasi heroik berikutnya adalah context, situasi dan kondisi. Pembicara yang baik pasti akan menyesuaikan diri dengan konteks dimana ia sedang berada. Karena tidak semua lingkungan dapat didekati dengan cara yang sama. Elvis Presley, pada masanya berhasil membangun komunikasi yang baik melalui musik rock ‘n roll-nya. Konteks pada waktu itu memang musik dengan genre itu yang digandrungi. Karenanya, ia berhasil. Jika ditarik ke ruang yang lebih luas, hanya orang yang bisa menyesuaikan gaya komunikasinya dengan konteks yang tengah berlangsunglah yang akan mendapatkan apresiasi simpatik dan empatik.

Dan elemen terakhir yang juga tidak kalah pentingnya dalam komunikasi heroik adalah congruence, kesesuaian. Poin ini berarti bahwa tindakan dari komunikator yang menyampaikan pesan, apa pun itu, harus bisa dijalankan sebagaimana diucapkan. Dalam bahasa lainnya disebut juga walk the talk alias menjalankan apa yang diucapkannya. Dalam dunia korporasi, ini bisa berarti janji dan komitmen yang sudah diucapkan, harus digenapi.

Dengan bermodalkan keempat elemen di atas: power, content, context, dan congruence, dimana pun, kapan pun dan dengan siapa pun Anda berkomunikasi, efek heroic communication akan terjadi. Jika hal ini sudah terjadi, fanatisme kuat terhadap Anda, produk Anda dan segala sesuatu yang Anda ujarkan atau tawarkan akan menuai kemudahan transaksional. Selamat mencoba!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar