Kamis, 06 Mei 2010

Mari "Lawan" Para Orangtua!!!

Penulis : Debbie Sianturi


Waduh....waduh.....ada apa nih? Mengapa judul artikel ini sangat kontroversial? Pastinya mengundang kekesalan para orangtua.

Secara spontan pun, para orangtua bisa saja mengatakan, "Anak muda zaman sekarang sok tahu!", "Tidak tahu hormat kepada pendahulu", atau "Pengalaman hanya dimiliki oleh para orangtua, anak muda hanya memiliki teori saja." Dan masih banyak komentar kekesalan dari para orangtua kepada para pemuda Indonesia.

Fakta hidup sehari-hari pun dapat terlihat dengan jelas. Ada sebagian anak-anak muda mengejek para orangtua sebagai "Si Kolot". Menantu perempuan berlawanan setiap hari dengan ibu mertua perempuan. Anak-anak muda mengabaikan para orangtua karena dinilai hanya memikirkan kepentingan keluarganya tanpa prihatin kepada sesamanya.

Ada apa sebenarnya di balik ini semua?

Para orangtua pasti mampu berkomunikasi dengan bijaksana dan memiliki pengalaman yang jauh ke depan. Tetapi sadarilah, para orangtua karena begitu memiliki kemurahan hati yang tidak dapat tertandingi, seringkali tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi pada sekeliling masyarakat.

Para anak muda pasti mampu mengorganisir pemuda lainnya. Walaupun seringkali dengan mengucapkan dengan kata-kata kasar dengan maksud supaya sesamanya segera sadar untuk bertindak dan waspada dalam segala keadaan.

Dapatkah kita lihat adanya perbedaan yang tajam antara orangtua dan anak-anak muda?

Para orangtua sering hilang kendali, sementara anak-anak muda memiliki pengawasan kendali yang cukup ketat.

Yang diterangkan di atas, adalah bagian positif dan negatif dari masing-masing pihak.

Di sini masing-masing pihak memiliki nilai yang bermanfaat maupun nilai yang merugikan. Jadi bagaimana ya menyikapi hal ini?

Para pemuda hendaknya tetap menghormati secara 'tidak mutlak' kepada para orangtua. Artinya, para pemuda dapat menghormati para orangtua dalam batas-batas tertentu. Jika nasihat atau saran para orangtua ini merugikan khalayak ramai masyarakat, ya, para pemuda berhak 'mengabaikan' nasihat dan saran dari para orangtua.

Di sisi lain, para orangtua pun sebaiknya membuka hati dengan jiwa yang besar kepada para pemuda. Artinya jika pendapat atau nasihat para orangtua ditolak oleh para pemuda, BUKAN ARTINYA para orangtua ditolak secara pribadi oleh para pemuda. Melainkan para orangtua hendaknya menganjurkan para pemuda untuk menyelesaikan segala persoalan dengan pikiran yang jernih dan kendali diri.

Netter yang budiman,

Sadarilah :

1. Hidup kita ini ada pendahulunya yaitu para orangtua. Maka HORMATILAH para orangtua dengan sepantasnya!
2. Fakta hidup membuktikan bahwa masyarakat memerlukan tindakan konkrit tanpa kata-kata yang berbelit-belit karena tidak mau menyakiti salah satu pihak. Para orangtua, TERIMALAH sikap kritis dari para pemuda, selama tindakan kritis tersebut tidak mengarah pada tindakan anarkis.

Intinya, HORMAT MENGHORMATI masih dibutuhkan pada era globalisasi ini.

Success is My Right! Success to All Of You!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar