Senin, 24 Mei 2010

Kesempatan Itu Datangnya Berkali - Kali

Penulis : Agoeng Widyatmoko


Sering kita mendengar kalau ada seseorang yang mengeluh, Wah seandainya aku ambil kesempatan kemarin, pasti aku sudah bisa sukses. Atau ada pula yang kadang mengatakan " Sayang, kesempatannya sudah lewat, seandainya aku lebih cepat "

Keluhan-keluhan semacam itu memang menjengkelkan, apalagi jika kita sendiri yang mengalaminya. Betapa tidak, kita baru tahu bahwa kesempatan emas itu ada di depan, tapi terlambat mengambilnya (atau malas dan ragu mengambilnya? ). Dan, lebih jengkel lagi kalau kemudian kesempatan itu tak mungkin datang lagi.

Yah, memang, banyak orang mengatakan bahwa kesempatan itu tak datang dua kali. Tapi, benarkah hal itu? Saya bisa memastikan jawabannya tidak! Bahkan, kesempatan itu datangnya berkali-kali. Tentu, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi.

Syaratnya sederhana, namun kadang orang jarang menyadarinya. Syarat utama itu adalah bertindak atau take action. Ada sebuah cerita yang dialami oleh salah seorang klien saya. Ia adalah seorang ibu yang punya usaha kue. Ia merasa bahwa saingan usahanya makin banyak dan kesempatan menitip di warung-warung kecil yang biasanya dia lakukan makin sengit persaingannya. Lantas, saya katakan, mengapa tidak mencoba untuk titip ke kantor-kantor. Dia bilang sulit, karena tidak punya kenalan. Kemudian, saya jawab, mengapa tidak dicoba dulu, seminggu atau sesanggupnya saja. Pokoknya asal jangan mengatakan belum dicoba.

Sebulan berlalu. Hingga tiga bulan lamanya ibu itu tidak menghubungi saya lagi. Tapi, di suatu sore, ibu itu menelepon saya dan mengucapkan terima kasih. Ia mengatakan sudah menjalankan saran saya untuk mencoba nekad menjual ke kantor-kantor. Ia nekad karena memang sudah merasa sulit bersaing dengan yang lain. Ia mencoba mencari kesempatan dengan memasarkan produknya ke kantor.

Awalnya ke kantor-kantor kecil. Ia menawarkan itu melalui resepsionisnya. Akhirnya, dari beberapa, ada yang mau diajak kerja sama menjualkan produknya ke orang kantor. Dari salah satu kantor kecil itu, ternyata ada salah seorang pelanggannya yang suka dengan kue buatan ibu itu. Dan, ia pun menawarkan kerja sama membuat kue dan kemasan yang lebih rapi untuk dimasukkan ke toko besar kenalannya. Akhirnya, hanya dalam waktu tiga bulan, tanpa disangka, ibu itu kini memasok kue ke sebuah toko kue yang cukup terkenal di daerahnya.

Begitulah. Terbukti, kesempatan itu muncul begitu ibu tersebut berani untuk bertindak. Ia memutuskan nekad – meski dengan sejumlah kendala dan ketakutan sebelumnya – untuk mencari (menciptakan) kesempatan.

Inilah salah satu contoh nyata bahwa kesempatan itu ternyata bisa datang di mana saja dan dengan cara yang mungkin tak kita duga sebelumnya. Satu hal yang pasti, kesempatan ternyata hanya akan menghampiri orang yang mau mencarinya, bukan menunggu. Kesempatan atau peluang bahkan bisa datang berkali-kali jika kita mau menciptakannya. Caranya? Dengan bertindak atau take action.

Kini, tinggal Anda pilih. Apakah Anda akan menunggu, atau ingin menciptakan kesempatan sendiri. Semuanya di tangan Anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar