Senin, 15 April 2013

Kelemahan Bisnis "Online" Lewat Facebook

KOMPAS.com - Situs jejaring sosial menjadi pilihan termudah bagi para pebisnis pemula untuk mempromosikan produknya. Juga untuk bertransaksi secara manual melalui media sosial. Contohnya Facebook, situs pertemanan ini banyak dimanfaatkan untuk berbisnis online.
Tak sedikit orang yang mendapatkan manfaat besar terutama untuk branding produknya (barang/jasa) melalui Facebook. Namun ketika bisnis semakin berkembang, cara berbisnis online paling sederhana ini pun mulai menemui banyak kendala.

Ketika Facebook tak lagi memenuhi kebutuhan usaha online, para pebisnis pun beralih kepada situs belanja online dengan platform e-commerce, baik dalam format mal online atau department store online.

Jessy Agita, pebisnis online dan salah satu pendiri situs e-commerce Berbatik.com mengaku pengusaha mengalami sejumlah kendala kala berbisnis melalui Facebook.

Jessy sendiri berpengalaman dua tahun berbisnis melalui Facebook. Mulai 2012 ia pun beralih pada situs e-commerce yang lebih memudahkan juga menguntungkan baginya. Alih-alih memilih ragam situs e-commerce yang saat ini banyak muncul, Jessy memutuskan mendirikan sendiri situs belanja online bersama rekannya, Heri Fikrio, dan Hendy Irawan.

"Bisnis di Facebook serba manual. Follow up ke pelanggan juga melalui pesan personal dan harus rutin mengecek inbox. Banyak kesalahan yang terjadi karena semua dikelola sendiri, human errornya tinggi karena tidak ada sistem untuk menjalankannya," jelasnya kepada Kompas Female di sela temu media bersama Berbatik.com di De Luca, Plaza Senayan Jakarta, Selasa (23/10/2012).

Jessy mengungkapkan beberapa kesalahan yang memungkinkan dan memang kerap terjadi saat berbisnis online melalui Facebook di antaranya:
* Pencatatan pemesanan yang keliru karena semua serba manual.
* Pesanan tertukar, ini merupakan dampak dari kesalahan pada pemesanan.
* Komunikasi ke pelanggan kurang lancar. Lagi-lagi ini terjadi karena pebisnis mengurus semua hal sendiri, mulai promosi produk, melayani pelanggan, menerima permintaan, mengurus pengiriman termasuk pembayaran.
* Transaksi kerap tertunda karena bergantung pada interaksi pembeli dan penjual. Kalau pembeli tidak tanggap merespons pertanyaan pembeli, niat untuk belanja bisa tertunda atau bahkan batal.

Sistem yang terbangun dengan baik, karena didukung teknologi yang canggih membuat belanja online menggunakan e-commerce semakin dicari pebisnis. Yanti Moeljono, salah satu vendor sekaligus desainer dan pendiri label Batik Tanpa Nama juga mengaku lebih nyaman menjalankan bisnis online lewat situs e-commerce dibandingkan melalui Facebook.

Yanti bersama kedua rekannya, Maya maryam dan Fanny Patikawa, berpengalaman satu tahun berbisnis produk batik cap dan tulis melalui Facebook. Untuk mengedukasi sekaligus mempromosikan produk batik, serta memudahkan transaksi jual-beli, tiga rekanan bisnis ini pun memilih bergabung di situs belanja online Berbatik.com.

"Selain Facebook biasanya kami ikut pameran seperti Inacraft. Dengan adanya situs e-commerce khusus produk batik, kami terbantu terutama untuk mengurus pembayaran dan pengiriman," tuturnya.

Menurut Yanti, dengan menyerahkan transaksi termasuk pelayanan pelanggan pada situs belanja online yang terkelola dengan baik, pebisnis bisa fokus meningkatkan kualitas produknya.

"Bisnis online bergantung pada trust. Sekali saja pembeli tidak puas dengan kualitas produknya mereka bisa pergi. Karenanya kualitas penting, dan dengan manajemen yang baik dalam penjualan, kami bisa bisa fokus pada produksi," tambah Yanti menyebutkan produk batik kreasinya berhasil menggaet pelanggan di Australia hingga Spanyol.

Ketiga pebisnis ini yakin, dengan bergabung dalam situs e-commerce di Indonesia khusus batik, bisnisnya bisa lebih mendunia. Dengan begitu, misi untuk mengedukasi masyarakat dalam dan luar negeri mengenai batik berkualitas (cap dan tulis), dengan keragaman warna dan gaya busana yang lebih modern berjiwa muda, bisa lebih tersebarluaskan.

"Batik bukan hanya sogan dengan warna yang cenderung gelap. Batik juga bisa diolah menjadi busana dengan warna cerah yang tidak berkesan tua. Modelnya pun beragam. Perpaduan warna dan motif yang tepat membuat batik pun lebih menarik," tambah Fanny.

Batik Tanpa Nama konsisten mengangkat batik yang sebenarnya, yakni cap dan tulis, bukan tekstil printing motif batik. Tiga perempuan di balik Batik Tanpa Nama ini berkomitmen mengembangkan batik Pekalongan, Garut, Cirebon, juga jumputan dan ikat, menjadi busana siap pakai yang lebih modern.


Editor :
wawa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar